Senin, 10 Maret 2014

Sang Kumbang Yang Mencari Bunga

Sang kumbangpun sudah mulai tumbuh dewasa, ciri-ciri   kedewasaan pun sudah mulai terlihat secara fisik.  Tanduknya sudah mulai memanjang, sayapnya pun mulai melebar, daya jelajah terbangnya sudah sangat jauh. Namun,  sang kumbang  mulai merasa bosan dan gelisah. Ternyata perkembangan fisiknya mulai berdampak
kepada perkembangan batinnya.

Disisi lain, sang bunga  mulai tumbuh dewasa, ciri-ciri kedewasaan pun sudah mulai terlihat secara fisik. Sang bunga sudah mulai menebar wanginya, tangkainya mulai menjulang keatas, dan warnanya sudah terlihat indah dan menarik. Pertumbuhan secara fisik sang bunga ternyata  sudah berdampak pada perkembangan batinnya, tetapi tidak ada yang bisa dilakukan sang bunga saat itu kecuali menanti dalam diam.

Waktupun berjalan diringi dengan bergantinya siang dan malam. Hari demi hari berlalu, sang kumbang mulai merasakan akumulasi perasaan yang mengganggu hidupnya, hingga pada akhirnya sang kumbangpun memutuskan untuk mencari bunga yang akan dipilihnya.

Perjalanan sang kumbang pun di mulai, jarak ternyata tidak menyurutkan niat dan langkahnya. Walaupun perjalanan menuju perkarangan bunga begitu jauh.Hal tersebut tidak menyurutkan niatnya untuk membatalkan tekad dalam pencarian.

Sang kumbang pun mulai menggerakkan sayapnya ternyata halang dan rintangan datang silih berganti; terucap lirih dalam hatinya dia berkata “ini konsekuensi dari pilihan yang di ambil”. Ditengah letih dengan semangat yang masih tersisa, tetibalah sang kumbang diperkebunan bunga yang indah dan menawan.
Berbagai bungapun menampilkan keindahan, warna dan wangi yang berbeda-beda. Semangat sang kumbangpun mulai terkumpul kembali rasa lelahnya seakan lenyap begitu saja, Sajian keindahan yang ditampilkan perkebunan bunga itu terlalu menyilaukan dan melenakan. Sampai pada akhirnya; Sang kumbangpun terlupakan tujuan awalnya dalam pencarian sang bunga. Tujuan yang memang merupakan hal pokok karena terkait dengan keberlangsungan hidup sang kumbang yaitu madu yang terdapat didalam sang bunga.

Sampai pada akhirnya diantara begitu banyaknya bunga yang tersaji dengan keindahan warna, aroma yang semerbak serta tangkai yang menjulang tinggi, jatuhlah pilihan sang kumbang pada sebuah bunga yang indah dan menawan.

Secara fitrah wajar memang kalau bunga itu yang dipilih karena memang keindahan yang ditampilkan merupakan daya tarik yang utama. karena bunga itu memang bunga hias. Bunga yang dirawat hanya untuk hiasan, bunga yang dirawat memang hanya untuk memanjakan pemenuhan unsur keindahan penglihatan bagi yang memandangnya.

Bunga yang sebelumnyapun sudah banyak dihinggapi oleh kumbang-kumbang yang lain karena terlenakan dengan keindahan yang ditampilkan.

Sang bungapun senang dengan kedatangan sang kumbang, karena sang bungapun membutuhkan sang kumbang untuk menyebarkan serbuk sarinya. Waktupunn berlalu Sampai  pada akhirnya sang kumbangpun tersadarkan ternyata bunga yang dipilihnya hanya memanfaatkan dirinya saja, sedangkan disisi lain kebutuhannya akan madu yang diharapkan dari sang bungapun tidak terpenuhi, sambil menunggu detik-detik akhir dari hidupnya akhirnya tersadarkanlah sang kumbang.

Sang kumbang mengatakan ”aduhai jika kalau saya tidak tertipu dengan penampilan bunga yang begitu memikat dan melenakan pastilah akhir hidupku tidak seperti ini, aduhai jika kalau saya memilih bunga tidak berdasarkan hanya pada nilai jual pada bunga tersebut pastilah akhir hidupku tidak seperti ini, aduhai jika kalau saya memilih bunga tidak berdasarkan hanya pada perkarangannya yang indah pastilah hidupku tidak seperti ini, aduhai.. begitu penyesalan sang kumbang” sekali lagi penyesalan tinggal penyesalan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar