Di sebuah lembah yang sangat asri
dengan tumbuhan tumbuhan liar yang cantik dan anggun, terlihat seekor
kumbang kecil tak bersayap sedang kelaparan mencari makan. ia terus
berjalan tanpa henti dan mencari madu segar untuk segera ia makan.
Sudah dua hari ini ia belum makan karena kondisi sayap nya yang sudah
tak bisa diajak terbang lagi.
Mendengar ucapan bunga itu, kumbang pun lekas pergi sambil menangisi nasibnya yang sungguh malang. Ia mengeluh atas apa yang telah terjadi pada hidupnya. Karena terlalu lelah, ia beristirahat di bawah pohon besar yang sangat kokoh. Lalu pohon itu berkata “hei kau kumbang jelek! jangan berani-berani kotorkan batang ku dengan menyenderkan tubuh cacat tak bersayap mu itu disini! pergi kau!” ia langsung tersentak dan melanjutkan perjalanannya sambil terus menangis.
Sejenak ia teringat waktu lalu disaat sayapnya masih gagah dan mampu membantunya terbang tinggi. Saat itu semua serangga dan tumbuhan di lembah itu sangat menghormatinya dan mengangkat derajatnya tinggi-tinggi. Namun setelah terjadi kecelakaan besar hingga sayapnya rusak, semua makhluk yg tadinya takluk kepadanya langsung mencemoohnya serentak.
Ia terus berjalan dan berjalan sambil menahan lapar yang teramat sangat di perutnya. Sampai akhirnya ia menemukan sebuah bunga tua yang sudah layu dan sepertinya sudah tak asing lagi untuknya. Bunga itu memanggilnya dan menyuruh kumbang itu untuk menghampirinya,
“Kumbang, apa kamu lapar? ambilah madu ku. Walaupun rasanya tidak enak, tapi mudah mudahan bisa menahan rasa lapar di tubuh mu” perintah bunga layu itu.
“Sungguh ? tapi, jika aku memakan madu mu, kau bisa mati. lihat lah tubuh mu. kau sudah layu.” ucap kumbang itu
“Tak apa. Ambilah madu ku. Umur ku hanya tinggal menghitung detik. Dengan atau tanpa kau memakan madu ku, aku pasti akan mati. ambilan maduku ini”
Akhirnya dengan setengah hati, kumbang itu memakan madu yang tersisa di bunga layu itu hingga membuat bunga layu itu mati dan kering. Setelah bunga itu mati, barulah kumbang itu sadar bahwa bunga itu adalah bunga yang dulu sering sekali ia cemooh dan ia hina. “Tapi, mengapa bunga itu rela mengorbankan nyawanya untukku?” tanya kumbang itu dalam hati. Ia sangat menyesali segala perbuatan yang dulu ia lakukan kepada bunga itu dan merapihkan bangkai bunga layu itu dengan sepenuh hati.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar