Selasa, 11 Maret 2014

Resensi film Serdadu Kumbang

Judul: Serdadu Kumbang

Genre: Drama

Penulis: Jeremias Nyangoen

Sutradara: Ari Sihasale

Pemain: Yudi Miftahudin, Aji Santosa, Fachri Azhari, Monica Sayangbati, Titi Sjuman, RIrin Ekawati, Lukman Sardi, Asrul Sahlan, Leroy Osmani, Dorman Borisman, Surya Saputra, Gerry Puraatmadja, Putu Wijaya, Fanny Fadillah

Music Director: Aksan Sjuman

Produksi: Alenia Pictures

Durasi: 105 menit

Serdadu Kumbang adalah sebuah film Indonesia yang dirilis pada tahun 2011. Film ini disutradarai oleh Ari Sihasale yang pernah juga menyutradari film Tanah Air Beta dan juga Senandung di Atas Awan di tahun tahun sebelumnya. Film ini mempunyai latar belakang cerita yang ditempatkan di sebuah desa, Desa Mantar, Kecamatan Poto Tano, Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat. Cerita ini menceritakan tentang kehidupan tiga anak laki laki yang bernama Amek, Umbe dan Acan. Namun, film ini lebih memfokuskan kisah kehidupan dari Amek, bocah yang dulunya mempnyai bibir sumbing.

Tokoh utama dalam film ini adalah Amek yang diperankan oleh Yudi Miftahudin. Amek adalah anak laki laki yang terlahir dengan bibir sumbing yang mempunyai cita cita sebagai penyiar tv. Amek tinggal bersama ibunya yang bernama Siti yang diperankan Titi Sjuman dan kakaknya Minun yang diperankan oleh Monica Sayangbati. Amek juga mempunyai Ayah yang bernama Zakaria yan diperankan Asrul Dahlan. Ayahnya telah meninggalkan keluarganya berberapa tahun yang lalu untuk menjadi TKI (Tenaga Kerja Indonesia) di Malaysi. Amek sangat rindu dengan ayannya yang sedang bekerja di luar negeri. Ayahnya jarang sekali memberi uang sehingga ibu Amek butuh berjualan makanan untuk membiayai kebutuhan sehari-hariannya. Saking kangennya Amek, dia juga pernah menukarkan kambingnya dengan handphone karena ingin sekali menelpon Ayahnya.

Walaupun kondisi kehidupan Amek yang sangat sederhana, Amek adalah anak yang ceria. Dia senang menjahili orang dan sangat malas belajar. Tahun sebelumnya, Amek pernah tidak lulus Ujian Nasional. Dia lebih senang nonton berita di tv. Amek juga sering dihukum di sekolah karena kelakuannya yang jahil. Bukan hanya Amek yang sering menjahili orang, teman temannya pun juga, Umbe dan Acan. Mereka bertiga sering dihukum oleh guru mereka, Pak Alim yang diperankan oleh Lukman Sardi. Pak Alim adalah salah satu guru yang mengajar di sekolah Amek dengan watak yang keras, menurutnya, kedisplinan adalah saat anak dihukum setelah berbuat kesalahan. Namun, menurut Imbok, kekerasan bukanlah jalan keluar untuk mendisplinkan anak anak yang telah berbuat salah.

Di desa tersebut, ada sebuah pohon tua dan besar. Pohon itu diberi nama pohon cita cita, “Pohon Cita CIta” ini dinamakan karena anak anak di desa Mantar  biasanya menuliskan cita-citanya yang sederhana disebuah kertas dan dimasukkan ke dalam botol yang kemudian, digantung di ranting ranting pohon tersebut. Semua menuliskan citacitanya kecuali Amek karena takut di tertawakan orang. Walaupun Amek tidak punya prestasi yang tinggi disekolah, namun, dia mempunyai kelebihan yang lain yaitu naik kuda. Dia mempunyai kuda yang bernama Smodeng. Amek memang anak yang jahil tetapi dia juga baik. Ia pernah menolong seseorang yang bernama Ketut yang diperankan oleh Surya Saputra saat motornya mogok. Sebagai balasan, Ketut mengajak muris muris di sekolah Amek untuk mengunjungi sebuah sekolah di kota.

Suatu hari, ayah Amek pulang dari Malaysia. Tetapi siapa sangka, ayah Amek bukanlah orang yang jujur. Dia mencoba menjual jam tangan palsu dengan harga yang sangat tinggi. Saat orang tersebut meminta Zakaria untuk mengembalikan uangnya, ayah Amek bingung karena dia sudah memakai uangnya sudah dipakai untuk membayar hutang hutangnya. Terpaksa, kuda Amek harus dibawa untuk jaminan. Amek sangat sedih tetapi Minun berjanji kepada Amek kalau dia lulus ujian, Smodeng akan pulang. Ia mengunakan uang tabungannya yang harusnya dipakai untuk melanjutkan sekolahnya untuk menebus Smodeng. Amek kembali senang. Namun, kesenangan menurun karena unjian nasional sudah dekat. Setelah ujian nya selesai, murid-muridnya mendapatkan nilainya. Anak-anak di angkatan Amek meningkar hasilnya. Dia lulus ujian nasional tersebut. Tetapi, Minun gagal. Anak anak di kelas 3 SMP tidak ada yang berhasil. Minun sangat terpukul. Lalu, dia pergi kepohon cita cita untuk mengambil kembali kertas yang sudah dituliskan cita citanya tersebut. Tak disangka dia jatuh dari pohon dan meninggal dunia. Amek sangat sedih sampau dia jatuh sakit. Lalu, beberapa bulan kemudian, Ketut balik ke desa tersebut untuk memberi tahu Amek bahwa bibirnya akan segera di operasi.

Menurut saya, banyak aktor dan aktris yang bermain di film ini mempunyai bakat akting yang sangat terbatas dikarenakan mereka tidak mempunyai pengalaman yang banyak di bidang tersebut. Tetapi untuk aktor cilik yang tidak mempunyai banyak pengalaman, perannya cukup bagus. Akhir dari film ini tidak menarik dan tidak terlalu masuk akal, saat Minun meninggal. Film ini mempunyai durasi yang sangat panjang. Film ini juga menggambarkan persahabatan. Persahabatan adlah bagian yang sangat penting di film ini. Selain keluarga teman temannyalah yang selalu ada di dekat Amek, dan yang selalu menolong Amek. Contohnya saat Amek dimarahi gurunya, temen temannya pun menyalahkan mereka sendiri dan ikut dihukum.  Secara kesuluruhan, film ini mempunyai pesan yang sangat jelas yaitu untuk menggantungkan cita citamu setinggi langit.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar