Entah sudah berapa bunga mawar
kau hisap demi untuk melupakan kesetiaan
bahkan seonggok egois tertawar dalam katakata
hanya untuk melukai
sementara hatimu menangis di peraduan sepi
mencumbui bayangan
gelinjang malam serasa siksa
bait puisi robek oleh gerhana
menyesali kebodohan
yang kau tengteng dalam dada busung
batin terpasung oleh gejolak yang tak pernah sirna
tiada nyali
pada bentang rindu
hanya gerutu kumbang jalang
mengepak sayap patahnya
saat meloncati bunga demi bunga
dan madu itu telah menjadi racun
siap mematikan detak jantung
mengubur hidup hidup
dalam siasat bunga bangkai
Kumbang dan Bunga
Selasa, 11 Maret 2014
Resensi film Serdadu Kumbang
Judul: Serdadu Kumbang
Genre: Drama
Penulis: Jeremias Nyangoen
Sutradara: Ari Sihasale
Pemain: Yudi Miftahudin, Aji Santosa, Fachri Azhari, Monica Sayangbati, Titi Sjuman, RIrin Ekawati, Lukman Sardi, Asrul Sahlan, Leroy Osmani, Dorman Borisman, Surya Saputra, Gerry Puraatmadja, Putu Wijaya, Fanny Fadillah
Music Director: Aksan Sjuman
Produksi: Alenia Pictures
Durasi: 105 menit
Serdadu Kumbang adalah sebuah film Indonesia yang dirilis pada tahun 2011. Film ini disutradarai oleh Ari Sihasale yang pernah juga menyutradari film Tanah Air Beta dan juga Senandung di Atas Awan di tahun tahun sebelumnya. Film ini mempunyai latar belakang cerita yang ditempatkan di sebuah desa, Desa Mantar, Kecamatan Poto Tano, Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat. Cerita ini menceritakan tentang kehidupan tiga anak laki laki yang bernama Amek, Umbe dan Acan. Namun, film ini lebih memfokuskan kisah kehidupan dari Amek, bocah yang dulunya mempnyai bibir sumbing.
Tokoh utama dalam film ini adalah Amek yang diperankan oleh Yudi Miftahudin. Amek adalah anak laki laki yang terlahir dengan bibir sumbing yang mempunyai cita cita sebagai penyiar tv. Amek tinggal bersama ibunya yang bernama Siti yang diperankan Titi Sjuman dan kakaknya Minun yang diperankan oleh Monica Sayangbati. Amek juga mempunyai Ayah yang bernama Zakaria yan diperankan Asrul Dahlan. Ayahnya telah meninggalkan keluarganya berberapa tahun yang lalu untuk menjadi TKI (Tenaga Kerja Indonesia) di Malaysi. Amek sangat rindu dengan ayannya yang sedang bekerja di luar negeri. Ayahnya jarang sekali memberi uang sehingga ibu Amek butuh berjualan makanan untuk membiayai kebutuhan sehari-hariannya. Saking kangennya Amek, dia juga pernah menukarkan kambingnya dengan handphone karena ingin sekali menelpon Ayahnya.
Walaupun kondisi kehidupan Amek yang sangat sederhana, Amek adalah anak yang ceria. Dia senang menjahili orang dan sangat malas belajar. Tahun sebelumnya, Amek pernah tidak lulus Ujian Nasional. Dia lebih senang nonton berita di tv. Amek juga sering dihukum di sekolah karena kelakuannya yang jahil. Bukan hanya Amek yang sering menjahili orang, teman temannya pun juga, Umbe dan Acan. Mereka bertiga sering dihukum oleh guru mereka, Pak Alim yang diperankan oleh Lukman Sardi. Pak Alim adalah salah satu guru yang mengajar di sekolah Amek dengan watak yang keras, menurutnya, kedisplinan adalah saat anak dihukum setelah berbuat kesalahan. Namun, menurut Imbok, kekerasan bukanlah jalan keluar untuk mendisplinkan anak anak yang telah berbuat salah.
Di desa tersebut, ada sebuah pohon tua dan besar. Pohon itu diberi nama pohon cita cita, “Pohon Cita CIta” ini dinamakan karena anak anak di desa Mantar biasanya menuliskan cita-citanya yang sederhana disebuah kertas dan dimasukkan ke dalam botol yang kemudian, digantung di ranting ranting pohon tersebut. Semua menuliskan citacitanya kecuali Amek karena takut di tertawakan orang. Walaupun Amek tidak punya prestasi yang tinggi disekolah, namun, dia mempunyai kelebihan yang lain yaitu naik kuda. Dia mempunyai kuda yang bernama Smodeng. Amek memang anak yang jahil tetapi dia juga baik. Ia pernah menolong seseorang yang bernama Ketut yang diperankan oleh Surya Saputra saat motornya mogok. Sebagai balasan, Ketut mengajak muris muris di sekolah Amek untuk mengunjungi sebuah sekolah di kota.
Suatu hari, ayah Amek pulang dari Malaysia. Tetapi siapa sangka, ayah Amek bukanlah orang yang jujur. Dia mencoba menjual jam tangan palsu dengan harga yang sangat tinggi. Saat orang tersebut meminta Zakaria untuk mengembalikan uangnya, ayah Amek bingung karena dia sudah memakai uangnya sudah dipakai untuk membayar hutang hutangnya. Terpaksa, kuda Amek harus dibawa untuk jaminan. Amek sangat sedih tetapi Minun berjanji kepada Amek kalau dia lulus ujian, Smodeng akan pulang. Ia mengunakan uang tabungannya yang harusnya dipakai untuk melanjutkan sekolahnya untuk menebus Smodeng. Amek kembali senang. Namun, kesenangan menurun karena unjian nasional sudah dekat. Setelah ujian nya selesai, murid-muridnya mendapatkan nilainya. Anak-anak di angkatan Amek meningkar hasilnya. Dia lulus ujian nasional tersebut. Tetapi, Minun gagal. Anak anak di kelas 3 SMP tidak ada yang berhasil. Minun sangat terpukul. Lalu, dia pergi kepohon cita cita untuk mengambil kembali kertas yang sudah dituliskan cita citanya tersebut. Tak disangka dia jatuh dari pohon dan meninggal dunia. Amek sangat sedih sampau dia jatuh sakit. Lalu, beberapa bulan kemudian, Ketut balik ke desa tersebut untuk memberi tahu Amek bahwa bibirnya akan segera di operasi.
Menurut saya, banyak aktor dan aktris yang bermain di film ini mempunyai bakat akting yang sangat terbatas dikarenakan mereka tidak mempunyai pengalaman yang banyak di bidang tersebut. Tetapi untuk aktor cilik yang tidak mempunyai banyak pengalaman, perannya cukup bagus. Akhir dari film ini tidak menarik dan tidak terlalu masuk akal, saat Minun meninggal. Film ini mempunyai durasi yang sangat panjang. Film ini juga menggambarkan persahabatan. Persahabatan adlah bagian yang sangat penting di film ini. Selain keluarga teman temannyalah yang selalu ada di dekat Amek, dan yang selalu menolong Amek. Contohnya saat Amek dimarahi gurunya, temen temannya pun menyalahkan mereka sendiri dan ikut dihukum. Secara kesuluruhan, film ini mempunyai pesan yang sangat jelas yaitu untuk menggantungkan cita citamu setinggi langit.
Genre: Drama
Penulis: Jeremias Nyangoen
Sutradara: Ari Sihasale
Pemain: Yudi Miftahudin, Aji Santosa, Fachri Azhari, Monica Sayangbati, Titi Sjuman, RIrin Ekawati, Lukman Sardi, Asrul Sahlan, Leroy Osmani, Dorman Borisman, Surya Saputra, Gerry Puraatmadja, Putu Wijaya, Fanny Fadillah
Music Director: Aksan Sjuman
Produksi: Alenia Pictures
Durasi: 105 menit
Serdadu Kumbang adalah sebuah film Indonesia yang dirilis pada tahun 2011. Film ini disutradarai oleh Ari Sihasale yang pernah juga menyutradari film Tanah Air Beta dan juga Senandung di Atas Awan di tahun tahun sebelumnya. Film ini mempunyai latar belakang cerita yang ditempatkan di sebuah desa, Desa Mantar, Kecamatan Poto Tano, Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat. Cerita ini menceritakan tentang kehidupan tiga anak laki laki yang bernama Amek, Umbe dan Acan. Namun, film ini lebih memfokuskan kisah kehidupan dari Amek, bocah yang dulunya mempnyai bibir sumbing.
Tokoh utama dalam film ini adalah Amek yang diperankan oleh Yudi Miftahudin. Amek adalah anak laki laki yang terlahir dengan bibir sumbing yang mempunyai cita cita sebagai penyiar tv. Amek tinggal bersama ibunya yang bernama Siti yang diperankan Titi Sjuman dan kakaknya Minun yang diperankan oleh Monica Sayangbati. Amek juga mempunyai Ayah yang bernama Zakaria yan diperankan Asrul Dahlan. Ayahnya telah meninggalkan keluarganya berberapa tahun yang lalu untuk menjadi TKI (Tenaga Kerja Indonesia) di Malaysi. Amek sangat rindu dengan ayannya yang sedang bekerja di luar negeri. Ayahnya jarang sekali memberi uang sehingga ibu Amek butuh berjualan makanan untuk membiayai kebutuhan sehari-hariannya. Saking kangennya Amek, dia juga pernah menukarkan kambingnya dengan handphone karena ingin sekali menelpon Ayahnya.
Walaupun kondisi kehidupan Amek yang sangat sederhana, Amek adalah anak yang ceria. Dia senang menjahili orang dan sangat malas belajar. Tahun sebelumnya, Amek pernah tidak lulus Ujian Nasional. Dia lebih senang nonton berita di tv. Amek juga sering dihukum di sekolah karena kelakuannya yang jahil. Bukan hanya Amek yang sering menjahili orang, teman temannya pun juga, Umbe dan Acan. Mereka bertiga sering dihukum oleh guru mereka, Pak Alim yang diperankan oleh Lukman Sardi. Pak Alim adalah salah satu guru yang mengajar di sekolah Amek dengan watak yang keras, menurutnya, kedisplinan adalah saat anak dihukum setelah berbuat kesalahan. Namun, menurut Imbok, kekerasan bukanlah jalan keluar untuk mendisplinkan anak anak yang telah berbuat salah.
Di desa tersebut, ada sebuah pohon tua dan besar. Pohon itu diberi nama pohon cita cita, “Pohon Cita CIta” ini dinamakan karena anak anak di desa Mantar biasanya menuliskan cita-citanya yang sederhana disebuah kertas dan dimasukkan ke dalam botol yang kemudian, digantung di ranting ranting pohon tersebut. Semua menuliskan citacitanya kecuali Amek karena takut di tertawakan orang. Walaupun Amek tidak punya prestasi yang tinggi disekolah, namun, dia mempunyai kelebihan yang lain yaitu naik kuda. Dia mempunyai kuda yang bernama Smodeng. Amek memang anak yang jahil tetapi dia juga baik. Ia pernah menolong seseorang yang bernama Ketut yang diperankan oleh Surya Saputra saat motornya mogok. Sebagai balasan, Ketut mengajak muris muris di sekolah Amek untuk mengunjungi sebuah sekolah di kota.
Suatu hari, ayah Amek pulang dari Malaysia. Tetapi siapa sangka, ayah Amek bukanlah orang yang jujur. Dia mencoba menjual jam tangan palsu dengan harga yang sangat tinggi. Saat orang tersebut meminta Zakaria untuk mengembalikan uangnya, ayah Amek bingung karena dia sudah memakai uangnya sudah dipakai untuk membayar hutang hutangnya. Terpaksa, kuda Amek harus dibawa untuk jaminan. Amek sangat sedih tetapi Minun berjanji kepada Amek kalau dia lulus ujian, Smodeng akan pulang. Ia mengunakan uang tabungannya yang harusnya dipakai untuk melanjutkan sekolahnya untuk menebus Smodeng. Amek kembali senang. Namun, kesenangan menurun karena unjian nasional sudah dekat. Setelah ujian nya selesai, murid-muridnya mendapatkan nilainya. Anak-anak di angkatan Amek meningkar hasilnya. Dia lulus ujian nasional tersebut. Tetapi, Minun gagal. Anak anak di kelas 3 SMP tidak ada yang berhasil. Minun sangat terpukul. Lalu, dia pergi kepohon cita cita untuk mengambil kembali kertas yang sudah dituliskan cita citanya tersebut. Tak disangka dia jatuh dari pohon dan meninggal dunia. Amek sangat sedih sampau dia jatuh sakit. Lalu, beberapa bulan kemudian, Ketut balik ke desa tersebut untuk memberi tahu Amek bahwa bibirnya akan segera di operasi.
Menurut saya, banyak aktor dan aktris yang bermain di film ini mempunyai bakat akting yang sangat terbatas dikarenakan mereka tidak mempunyai pengalaman yang banyak di bidang tersebut. Tetapi untuk aktor cilik yang tidak mempunyai banyak pengalaman, perannya cukup bagus. Akhir dari film ini tidak menarik dan tidak terlalu masuk akal, saat Minun meninggal. Film ini mempunyai durasi yang sangat panjang. Film ini juga menggambarkan persahabatan. Persahabatan adlah bagian yang sangat penting di film ini. Selain keluarga teman temannyalah yang selalu ada di dekat Amek, dan yang selalu menolong Amek. Contohnya saat Amek dimarahi gurunya, temen temannya pun menyalahkan mereka sendiri dan ikut dihukum. Secara kesuluruhan, film ini mempunyai pesan yang sangat jelas yaitu untuk menggantungkan cita citamu setinggi langit.
Cerpen kumbang dan Bunga
Di sebuah lembah yang sangat asri
dengan tumbuhan tumbuhan liar yang cantik dan anggun, terlihat seekor
kumbang kecil tak bersayap sedang kelaparan mencari makan. ia terus
berjalan tanpa henti dan mencari madu segar untuk segera ia makan.
Sudah dua hari ini ia belum makan karena kondisi sayap nya yang sudah
tak bisa diajak terbang lagi.
Mendengar ucapan bunga itu, kumbang pun lekas pergi sambil menangisi nasibnya yang sungguh malang. Ia mengeluh atas apa yang telah terjadi pada hidupnya. Karena terlalu lelah, ia beristirahat di bawah pohon besar yang sangat kokoh. Lalu pohon itu berkata “hei kau kumbang jelek! jangan berani-berani kotorkan batang ku dengan menyenderkan tubuh cacat tak bersayap mu itu disini! pergi kau!” ia langsung tersentak dan melanjutkan perjalanannya sambil terus menangis.
Sejenak ia teringat waktu lalu disaat sayapnya masih gagah dan mampu membantunya terbang tinggi. Saat itu semua serangga dan tumbuhan di lembah itu sangat menghormatinya dan mengangkat derajatnya tinggi-tinggi. Namun setelah terjadi kecelakaan besar hingga sayapnya rusak, semua makhluk yg tadinya takluk kepadanya langsung mencemoohnya serentak.
Ia terus berjalan dan berjalan sambil menahan lapar yang teramat sangat di perutnya. Sampai akhirnya ia menemukan sebuah bunga tua yang sudah layu dan sepertinya sudah tak asing lagi untuknya. Bunga itu memanggilnya dan menyuruh kumbang itu untuk menghampirinya,
“Kumbang, apa kamu lapar? ambilah madu ku. Walaupun rasanya tidak enak, tapi mudah mudahan bisa menahan rasa lapar di tubuh mu” perintah bunga layu itu.
“Sungguh ? tapi, jika aku memakan madu mu, kau bisa mati. lihat lah tubuh mu. kau sudah layu.” ucap kumbang itu
“Tak apa. Ambilah madu ku. Umur ku hanya tinggal menghitung detik. Dengan atau tanpa kau memakan madu ku, aku pasti akan mati. ambilan maduku ini”
Akhirnya dengan setengah hati, kumbang itu memakan madu yang tersisa di bunga layu itu hingga membuat bunga layu itu mati dan kering. Setelah bunga itu mati, barulah kumbang itu sadar bahwa bunga itu adalah bunga yang dulu sering sekali ia cemooh dan ia hina. “Tapi, mengapa bunga itu rela mengorbankan nyawanya untukku?” tanya kumbang itu dalam hati. Ia sangat menyesali segala perbuatan yang dulu ia lakukan kepada bunga itu dan merapihkan bangkai bunga layu itu dengan sepenuh hati.
Senin, 10 Maret 2014
Bunga-bunga Kumbang-kumbang - Iwan Fals
Apa memang harus layu
Bunga bunga
Setelah sang kumbang
Menghisap manisnya madumu
Apa memang harus ingkar
Kumbang kumbang
Setelah sang bunga
Terkulai layu tak berbunga
Bunga bunga dilahirkan
Untuk dihisap sang kumbang
Kumbang kumbang dilahirkan
Untuk menghisap sang bunga
Bunga bunga dimekarkan
Untuk digoda sang kumbang
Kumbang kumbang diterbangkan
Untuk menggoda sang bunga
Mengapa bunga harus layu
Setelah kumbang dapatkan madu
Mengapa kumbang harus ingkar
Setelah bunga tak lagi mekar
Mungkin tuhan telah takdirkan
Kumbang kumbang
Campakkan sang bunga
Setelah layu tak berguna
Bunga bunga dilahirkan
Untuk dihisap sang kumbang
Kumbang kumbang dilahirkan
Untuk menghisap sang bunga
Bunga bunga dimekarkan
Untuk dicampakkan kumbang
Kumbang kumbang diterbangkan
Untuk mencampakkan bunga
Mengapa bunga harus layu
Setelah kumbang dapatkan madu
Mengapa kumbang harus ingkar
Setelah bunga tak lagi mekar
Bunga bunga
Setelah sang kumbang
Menghisap manisnya madumu
Apa memang harus ingkar
Kumbang kumbang
Setelah sang bunga
Terkulai layu tak berbunga
Bunga bunga dilahirkan
Untuk dihisap sang kumbang
Kumbang kumbang dilahirkan
Untuk menghisap sang bunga
Bunga bunga dimekarkan
Untuk digoda sang kumbang
Kumbang kumbang diterbangkan
Untuk menggoda sang bunga
Mengapa bunga harus layu
Setelah kumbang dapatkan madu
Mengapa kumbang harus ingkar
Setelah bunga tak lagi mekar
Mungkin tuhan telah takdirkan
Kumbang kumbang
Campakkan sang bunga
Setelah layu tak berguna
Bunga bunga dilahirkan
Untuk dihisap sang kumbang
Kumbang kumbang dilahirkan
Untuk menghisap sang bunga
Bunga bunga dimekarkan
Untuk dicampakkan kumbang
Kumbang kumbang diterbangkan
Untuk mencampakkan bunga
Mengapa bunga harus layu
Setelah kumbang dapatkan madu
Mengapa kumbang harus ingkar
Setelah bunga tak lagi mekar
Sang Kumbang Yang Mencari Bunga
Sang kumbangpun sudah mulai tumbuh dewasa, ciri-ciri kedewasaan pun
sudah mulai terlihat secara fisik. Tanduknya sudah mulai memanjang,
sayapnya pun mulai melebar, daya jelajah terbangnya sudah sangat jauh.
Namun, sang kumbang mulai merasa bosan dan gelisah. Ternyata
perkembangan fisiknya mulai berdampak
kepada perkembangan batinnya.
Disisi lain, sang bunga mulai tumbuh dewasa, ciri-ciri kedewasaan
pun sudah mulai terlihat secara fisik. Sang bunga sudah mulai menebar
wanginya, tangkainya mulai menjulang keatas, dan warnanya sudah
terlihat indah dan menarik. Pertumbuhan secara
fisik sang bunga ternyata sudah berdampak pada perkembangan batinnya,
tetapi tidak ada yang bisa dilakukan sang bunga saat itu kecuali menanti
dalam diam.Waktupun berjalan diringi dengan bergantinya siang dan malam. Hari demi hari berlalu, sang kumbang mulai merasakan akumulasi perasaan yang mengganggu hidupnya, hingga pada akhirnya sang kumbangpun memutuskan untuk mencari bunga yang akan dipilihnya.
Perjalanan sang kumbang pun di mulai, jarak ternyata tidak menyurutkan niat dan langkahnya. Walaupun perjalanan menuju perkarangan bunga begitu jauh.Hal tersebut tidak menyurutkan niatnya untuk membatalkan tekad dalam pencarian.
Sang kumbang pun mulai menggerakkan sayapnya ternyata halang dan rintangan datang silih berganti; terucap lirih dalam hatinya dia berkata “ini konsekuensi dari pilihan yang di ambil”. Ditengah letih dengan semangat yang masih tersisa, tetibalah sang kumbang diperkebunan bunga yang indah dan menawan.
Berbagai bungapun menampilkan keindahan, warna dan wangi yang berbeda-beda. Semangat sang kumbangpun mulai terkumpul kembali rasa lelahnya seakan lenyap begitu saja, Sajian keindahan yang ditampilkan perkebunan bunga itu terlalu menyilaukan dan melenakan. Sampai pada akhirnya; Sang kumbangpun terlupakan tujuan awalnya dalam pencarian sang bunga. Tujuan yang memang merupakan hal pokok karena terkait dengan keberlangsungan hidup sang kumbang yaitu madu yang terdapat didalam sang bunga.
Sampai pada akhirnya diantara begitu banyaknya bunga yang tersaji dengan keindahan warna, aroma yang semerbak serta tangkai yang menjulang tinggi, jatuhlah pilihan sang kumbang pada sebuah bunga yang indah dan menawan.
Secara fitrah wajar memang kalau bunga itu yang dipilih karena memang keindahan yang ditampilkan merupakan daya tarik yang utama. karena bunga itu memang bunga hias. Bunga yang dirawat hanya untuk hiasan, bunga yang dirawat memang hanya untuk memanjakan pemenuhan unsur keindahan penglihatan bagi yang memandangnya.
Bunga yang sebelumnyapun sudah banyak dihinggapi oleh kumbang-kumbang yang lain karena terlenakan dengan keindahan yang ditampilkan.
Sang bungapun senang dengan kedatangan sang kumbang, karena sang bungapun membutuhkan sang kumbang untuk menyebarkan serbuk sarinya. Waktupunn berlalu Sampai pada akhirnya sang kumbangpun tersadarkan ternyata bunga yang dipilihnya hanya memanfaatkan dirinya saja, sedangkan disisi lain kebutuhannya akan madu yang diharapkan dari sang bungapun tidak terpenuhi, sambil menunggu detik-detik akhir dari hidupnya akhirnya tersadarkanlah sang kumbang.
Sang kumbang mengatakan ”aduhai jika kalau saya tidak tertipu dengan penampilan bunga yang begitu memikat dan melenakan pastilah akhir hidupku tidak seperti ini, aduhai jika kalau saya memilih bunga tidak berdasarkan hanya pada nilai jual pada bunga tersebut pastilah akhir hidupku tidak seperti ini, aduhai jika kalau saya memilih bunga tidak berdasarkan hanya pada perkarangannya yang indah pastilah hidupku tidak seperti ini, aduhai.. begitu penyesalan sang kumbang” sekali lagi penyesalan tinggal penyesalan.
Langganan:
Komentar (Atom)
